Sabtu, 18 April 2015

Motivasi Belajar Anak 2


F.     Strategi orangtua dalam membangun motivasi berprestasi sesuai tahapan perkembangan psikis anak
            Untuk menumbuhkan motivasi anak, kita harus memulainya dengan memahami perkembangan psikis anak sesuai tahapan usianya. Berikut ini merupakan panduan bagi orang tua agar dapat mengembangkan motivasi anak sejak dini sehingga mereka memiliki semangat tinggi, kegigihan dan kemauan berusaha untuk melakukan sesuatu lebih baik dari waktu ke waktu.
1. Usia 1-3 tahun
a. Mengenali karakter anak sejak dini
Usia 1-2 tahun
            Masa dimana anak mengembangkan rasa ingin tahu dan sangat cepat menyerap berbagai  pengetahuan  baru dari lingkungannya dengan cara mengamati. Proses belajar dengan mengamati ini akan berkembang sejalan pertambahan usianya.
Usia 2-3 tahun
            Umumnya emosi mereka masih labil dan mudah sekali berubah. Disatu saat anak sangat bersemangat, tapi tiba-tiba saja mogok melakukan apapun atau dari senang lalu murung. Perasaan ini muncul karena anak ingin melakukan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan dari orang lain tapi dilain pihak, kemampuannya masih sangat terbatas. Jadi tidak aneh bila si kecil yang awalnya sedang asyik menggambar lalu mogok dan menangis hanya karena  ia tidak bisa menggambar bentuk orang yang ia inginkan.
b. Memotivasi dengan cinta
             Meski dasarnya seorang anak sudah memiliki motivasi yang tinggi, namun kata-kata pemberi semangat masih perlu sering orangtua ucapkan untuk memotivasi anak.
1)      Pujilah anak saat berbuat baik.
2)      Ungkapkan melalui bahasa tubuh. Ekspresi dan bahasa tubuh akan sangat mendukung kata-kata yang sudah orangtua ucapkan  pada anak. Termasuk pelukan dan ciuman saat anak berhasil berjalan tanpa terjatuh misalnya.
3)      Dengan cinta. Menawarkan kata-kata semangat harus dilandasi oleh cinta. Ungkapan cinta orangtua akan membuat anak lebih bersemangat untuk mencapai suatu tujuan. Namun demikian, tetaplah selalu menunjukkan cinta walaupun anak belum berhasil mencapai tujuan.
G.                 Stimulasi Motivasi untuk si kecil
1)      Bacakan cerita dengan pendekatan motivasi yang menarik sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Cara ini akan mendorong anak bertanya tentang berbagai hal yang belum diketahuinya.
2)      Berikan permainan yang edukatif sejak dini untuk merangsang perkembangan penalaran, sikap keterampilan motorik dan kreativitas.
3)      Ajarkan ia untuk menghargai usaha dan prestasi orang lain semenjak dini. Biasanya anak mencontoh perilaku orang tua.
2. Usia 4-6 Tahun
a. Karakteristik Perilau Anak Prasekolah
            Untuk bisa menumbuhkan motivasi pada anak usia prasekolah, berikut ini adalah perkembangan anak yang perlu orang tua pahami.
1)      Siapa aku. Si kecil mulai mengenal dirinya sebagai ”aku” dan memiliki seranglaian perasaan terhadap dirinya sendiri. Kesadaran ini menimbulkan keinginan anak untuk bisa melakukan sesuatu sendiri. Sekalipun demikian, anak masih membutuhkan dukungan orang tua.
2)      Melupanya rasa ingin tahu. Pada usia ini rasa ingin tahu anak masih sangat besar, dan meliputi beragam bidang.
3)      Memecahkan masalah. Di akhir masa prasekolah, kemampuan anak memahami realitas meningkat. Sejalan dengan peningkatan pemahaman realitas, kemampuan anak untuk mengatasi maslah pun membaik. Ia bisa mengungkapkan keinginan dan perasaan tidak sukanya dengan cara yang bisa diterima lingkungan.
b. Motivasi intristik dan ekstrinsik
            Motivasi untuk mencapai prestasi dibagi menjadi dua yaitu :
1)      motivasi dari dalam diri (intrinsik). Keinginan dari dalam diri anak untuk tampil kompeten dan melakukan sesuatu untuk kepentingannya sendiri. Misalnya anak belajar sungguh-sungguh karena ia merasa harus menjadi juara kelas.
2)      motivasi dari luar diri (ekstrinsik). Hal ini berkaitan dengan imbalan dan hukuman. Misalnya anak belajar dengan baik karena ia tahu bila berhasil mencapai prestasi yang baik, orangtua akan membelikan sepeda.
c. Motivasi dalam vs luar
            Motivasi dari dalam diri perlu dikembangkan dan faktor-faktor eksternal perlu diekndalikan. Anak belajar untuk melengkapi dirinya tentang sebab-sebab keberhasilan dan kegagalannya, khususnya usaha yang telah dilakukan.
            Pencapaian prestasi dimotivasi baik oleh faktor internal maupun eksternal. Kebanyakan anak yang memiliki orientasi berprestasi adalah mereka yang memiliki standar pribadi tinggi  untuk mencapai prestasi dan semangat berkompetisi yang juga tinggi.
            Yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan motivasi internal adalah peran lingkungan rumah. Pengalaman yang beragam di rumah, rangsangan orang tua terhadap kemampuan dan keingintahuan anak serta dorongan yang berhubungan dengan motivasi internal anak untuk mencapai prestasi, sangat penting untuk menumbuhkan motivasi anak.
d. Jangan membandingkan
            Para ahli menyarankan orang tua untuk mengukur keberhasilan anak dengan membandingkannya dengan kemajuan yang telah dicapai anak sebelumnya. Ketika dia telah menunjukkan perubahan, berarti dia telah mencapai hasil positif. Hindarilah membandingkan dengan anak lain, karena semua anak berbeda dan masing-masing memilki keunikannya sendiri. Cintailah anak Anda apa adanya. Jangan heran bila sebagian anak memiliki motivasi amat tinggi mencapai sukses dan berusaha keras untuk mencapainya sementara anak lain tidak. Setiap anak memang berbeda-beda kebutuhan berprestasinya, yaitu keinginan untuk mencapai standar keunggulan tertentu atau kemauan keras unntuk unggul.
C. Usia 6-12 Tahun
1.      Hubungan orang tua dan guru
      Orang tua bersama guru selayaknya merupakan partner serasi dalam mendidik anak. Orang tua mengajarkan keterampilan pada anak di rumah sekaligus memperhatikan minat aktif pada proses belajar anak di sekolah. Minat ini dapat dilakukan, misalnya dengan mendiskusikan apa yang dilakukan anak di sekolah, menginformasikan kelebihan anak pada guru dan berpartisi pasi dalam kegiatan di sekolah anak.
2.      Harapan terlalu tinggi
      Adalah kebijaksanaan apabila Anda tidak mematok harapan terlalu tinggi terhadap anak. Orang tua mesti realistis dalam menentukan pencapaian anak-anak mereka. Kalau harapan yang Anda tetapkan terlalu tinggi, hingga anak-anak merasa mustahil untuk mencapainya, maka mereka akan merasa tertekan. Anak-anak akan mudah merasa tidak berguna lalu kecewa dan murung apabila gagal mencapai impian orang tua. Keadaan bertambah parah apabila orang tua mulai marah setiap kali anak-anak gagal berprestasi.
            Kemarahan orang tua tidak akan mengubah cara anak belajar. Sebaliknya hal ini hanya akan melukai hati anak dan mengurangi rasa percaya diri mereka. Oleh karena itu, bicaralah dengan anak tentang sasaran dan target tersebut. Dengan cara ini, anak-anak merasakan target yang ditentukan itu adalah kemauannya sendiri bukan kemauan Anda, orang tuanya. Teruslah membimbing dan mengasuh si kecil disertai harapan yang baik dan hindari tuntutan yang berlebihan.
3.      Sabar dan sabar
      Memotivasi anak memerlukan kesabaran yang tinggi. Banyak orang tua yang mudah kehilangan kesabaran, lalu marah-marah dan menyalahkan anak. Oarang tua kesal, geram karena anak-anak kurang memberikan perhatian, lambat mengerti dan cepat lupa. Ingatlah anak-anak bukan kita, mereka tidak mungkin persis seperti kita. Kalau anda marah-marah, bisa-bisa malah memadamkan motivasi mereka.
D. Usia 6-14 tahun
1.      Jangan memaksa
      Untuk meningkatkan prestasinya, orang tua kadang tidak sadar telah memaksa anak belajar lebih keras. Jangan memaksa anak belajar terlalu keras, kalau orang tua tidak memberikan perhatian khusus. Memaksa anak belajar terlalu keras ada segi positifnya namun ada juga segi negatifnya.
      Segi positifnya, memaksa anak belajar terlalu keras akan membuat anak terpacu. Namun ini harus disertai dengan bantuan dan dukungan orangtua, seperti fasilitas dan perhatian. Karena kalau kedua hal tersebut tidak diberikan orangtua, tidak akan memperoleh manfaatnya.
2.      Bolehkah pemberian imbalan?
            Untuk memotivasi anak, mungkin perlu dipertimbangkan pemberian imbalan, terutama jika anaktidak melakuan tugasnya dengan baik, bosan atau bersikap negatif.
      Tapi gunakan sistem imbalan yang efektif. Efektivitas imbalan tergantung akurasi informasi atas prestasi anak. Imbalan yang efektif bisa berupa kata-kata pujian, waktu ekstra membaca buku atau bermain di rumah teman. Perhatian orang tua, juga guru bisa menjadi motivator yang kuat bagi anak untuk berprestasi.
      Imbalan diberikan bila anak menunjukkan perilaku yang kita inginkan, menghilangkan atau berkurangnya perilaku yang tidak kita kehendaki dan kerja ekstra. Misalnya, menyelesaikan pe-er lebih cepat.
3. Membuat Suasana Belajar Lebih Menyenangkan ketika di rumah
Selain tidak sering-sering memarahi anak ketika belajar, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan agar suasana belajar lebih menyenangkan dan anak termotivasi belajar. Hal-hal tersebut adalah:
1.      Anak cenderung meniru perilaku orangtua, karena itu jadilah contoh buat anak. Ketika menyuruh dan mengawasi anak belajar, orangtua juga perlu untuk terlihat belajar (misalnya membaca buku-buku). Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama lain, mengenai topik-topik serius (suasana seperti anak sedang kerja kelompok dan diskusi dengan teman-teman, jadi anak melihat kalau orangtuanya juga belajar). Dengan demikian, anak melihat bahwa orangtuanya sampai tua pun tetap belajar.
2.      Pilih waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu belajarnya.
3.      Anak punya daya konsentrasi dan rentang perhatian yang berbeda-beda. Misalnya ada anak yang bisa belajar terus-menerus selama 1 jam, ada yang hanya bisa selama setengah jam. Kenali pola ini dan susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai. Bagi anak yang hanya mampu berkonsentrasi selama 30 menit, maka berikan waktu istirahat 5-10 menit setelah ia belajar selama 30 menit. Demikian untuk anak yang mampu belajar lebih lama.
4.      Orang tua mendampingi anak ketika belajar bukan berarti selalu menemani disampingnya. Orangtua membantu anak ketika menemukan kesulitan.
5.      Sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak  (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis di tv).
H.    Strategi guru menumbuhkan motivasi belajar anak
            Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut :
1.      Menjelaskan tujuan belajar ke siswa dengan bahasa yang mudah di mengerti.
            Setiap ilmu yang diajarkan guru kepada siswa memiliki tujuan maka sampaikan tujuan tersebut dengan bahasa yang mudah dimengerti dan yakinkan bahwa ilmu yang saat ini didapatkan akan bermanfaat bagi dirinya. Sehingga siswa (anak) akan membutuhkan ilmu dan semangat dalam belajar.
2.      Hadiah
            Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3.      Saingan/kompetisi
      Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.      Pujian
            Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5.      Hukuman
            Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya
6.      Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
7.      Menggunakan metode yang bervariasi dan menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
8.      Memeberikan angka-angka yang dapat dikaitkan dengan values dalam setiap pengetahuan sebagai upaya peningkatan keterampilan kognitif dan afeksinya.
9.       Memberi ulangan
            Siswa akan merasa senang saat diberi ulangan ketika guru memberitahukan waktunya karena siswa mempersiapkan terlebih dahulu.
10.  Memberikan motivasi dengan membangkitkan minat. 

Maaf yah sumbernya tidak dicantumkan, kalau mau bisa menghubungi saya di 081617545866. terima kasih.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar