F.
Strategi orangtua dalam membangun motivasi
berprestasi sesuai tahapan perkembangan psikis anak
Untuk
menumbuhkan motivasi anak, kita harus memulainya dengan memahami perkembangan
psikis anak sesuai tahapan usianya. Berikut ini merupakan panduan bagi orang
tua agar dapat mengembangkan motivasi anak sejak dini sehingga mereka memiliki
semangat tinggi, kegigihan dan kemauan berusaha untuk melakukan sesuatu lebih
baik dari waktu ke waktu.
1. Usia 1-3 tahun
a. Mengenali karakter anak sejak dini
Usia 1-2 tahun
Masa
dimana anak mengembangkan rasa ingin tahu dan sangat cepat menyerap
berbagai pengetahuan baru dari lingkungannya dengan cara
mengamati. Proses belajar dengan mengamati ini akan berkembang sejalan
pertambahan usianya.
Usia 2-3 tahun
Umumnya
emosi mereka masih labil dan mudah sekali berubah. Disatu saat anak sangat
bersemangat, tapi tiba-tiba saja mogok melakukan apapun atau dari senang lalu
murung. Perasaan ini muncul karena anak ingin melakukan segala sesuatunya
sendiri tanpa bantuan dari orang lain tapi dilain pihak, kemampuannya masih
sangat terbatas. Jadi tidak aneh bila si kecil yang awalnya sedang asyik
menggambar lalu mogok dan menangis hanya karena
ia tidak bisa menggambar bentuk orang yang ia inginkan.
b. Memotivasi dengan cinta
Meski
dasarnya seorang anak sudah memiliki motivasi yang tinggi, namun kata-kata
pemberi semangat masih perlu sering orangtua ucapkan untuk memotivasi anak.
1) Pujilah anak saat berbuat baik.
2) Ungkapkan melalui bahasa tubuh. Ekspresi dan bahasa tubuh akan sangat mendukung kata-kata yang sudah orangtua
ucapkan pada anak. Termasuk pelukan dan
ciuman saat anak berhasil berjalan tanpa terjatuh misalnya.
3) Dengan cinta.
Menawarkan kata-kata semangat harus dilandasi oleh cinta. Ungkapan cinta orangtua
akan membuat anak lebih bersemangat untuk mencapai suatu tujuan. Namun
demikian, tetaplah selalu menunjukkan cinta walaupun anak belum berhasil
mencapai tujuan.
G.
Stimulasi Motivasi untuk si kecil
1) Bacakan cerita dengan
pendekatan motivasi yang menarik sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Cara
ini akan mendorong anak bertanya tentang berbagai hal yang belum diketahuinya.
2) Berikan permainan yang edukatif sejak dini untuk merangsang perkembangan penalaran, sikap
keterampilan motorik dan kreativitas.
3) Ajarkan ia untuk menghargai usaha dan prestasi orang lain semenjak dini. Biasanya anak mencontoh
perilaku orang tua.
2. Usia 4-6 Tahun
a. Karakteristik Perilau Anak Prasekolah
Untuk
bisa menumbuhkan motivasi pada anak usia prasekolah, berikut ini adalah
perkembangan anak yang perlu orang tua pahami.
1) Siapa aku. Si kecil
mulai mengenal dirinya sebagai ”aku” dan memiliki seranglaian perasaan terhadap
dirinya sendiri. Kesadaran
ini menimbulkan keinginan anak untuk bisa melakukan sesuatu sendiri. Sekalipun
demikian, anak masih membutuhkan dukungan orang tua.
2) Melupanya rasa ingin tahu. Pada usia ini rasa ingin tahu anak masih sangat besar, dan meliputi
beragam bidang.
3) Memecahkan masalah.
Di akhir masa prasekolah, kemampuan anak memahami realitas meningkat. Sejalan
dengan peningkatan pemahaman realitas, kemampuan anak untuk mengatasi maslah
pun membaik. Ia bisa mengungkapkan keinginan dan perasaan tidak sukanya dengan
cara yang bisa diterima lingkungan.
b. Motivasi intristik dan ekstrinsik
Motivasi untuk mencapai prestasi dibagi
menjadi dua yaitu :
1) motivasi dari dalam diri (intrinsik). Keinginan dari dalam diri anak untuk tampil kompeten dan melakukan sesuatu untuk kepentingannya
sendiri. Misalnya anak belajar sungguh-sungguh karena ia merasa harus menjadi
juara kelas.
2) motivasi dari luar diri (ekstrinsik). Hal ini berkaitan dengan imbalan dan hukuman.
Misalnya anak belajar dengan baik karena ia tahu bila berhasil mencapai
prestasi yang baik, orangtua akan membelikan sepeda.
c. Motivasi dalam vs luar
Motivasi dari dalam diri perlu dikembangkan dan
faktor-faktor eksternal perlu diekndalikan. Anak belajar untuk melengkapi
dirinya tentang sebab-sebab keberhasilan dan kegagalannya, khususnya usaha yang
telah dilakukan.
Pencapaian
prestasi dimotivasi baik oleh faktor internal maupun eksternal. Kebanyakan anak
yang memiliki orientasi berprestasi adalah mereka yang memiliki standar pribadi
tinggi untuk mencapai prestasi dan
semangat berkompetisi yang juga tinggi.
Yang
perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan motivasi internal adalah peran
lingkungan rumah. Pengalaman yang beragam di rumah, rangsangan orang tua
terhadap kemampuan dan keingintahuan anak serta dorongan yang berhubungan
dengan motivasi internal anak untuk mencapai prestasi, sangat penting untuk
menumbuhkan motivasi anak.
d. Jangan membandingkan
Para ahli menyarankan orang tua untuk mengukur
keberhasilan anak dengan membandingkannya dengan kemajuan yang telah dicapai
anak sebelumnya. Ketika dia telah menunjukkan perubahan, berarti dia telah
mencapai hasil positif. Hindarilah membandingkan dengan anak lain, karena semua
anak berbeda dan masing-masing memilki keunikannya sendiri. Cintailah anak Anda
apa adanya. Jangan heran bila sebagian anak memiliki motivasi amat tinggi
mencapai sukses dan berusaha keras untuk mencapainya sementara anak lain tidak.
Setiap anak memang berbeda-beda kebutuhan berprestasinya, yaitu keinginan untuk
mencapai standar keunggulan tertentu atau kemauan keras unntuk unggul.
C. Usia 6-12 Tahun
1.
Hubungan orang tua dan guru
Orang tua
bersama guru selayaknya merupakan partner serasi dalam mendidik anak. Orang tua
mengajarkan keterampilan pada anak di rumah sekaligus memperhatikan minat aktif
pada proses belajar anak di sekolah. Minat ini dapat dilakukan, misalnya dengan
mendiskusikan apa yang dilakukan anak di sekolah, menginformasikan kelebihan
anak pada guru dan berpartisi pasi dalam kegiatan di sekolah anak.
2.
Harapan terlalu tinggi
Adalah
kebijaksanaan apabila Anda tidak mematok harapan terlalu tinggi terhadap anak.
Orang tua mesti realistis dalam menentukan pencapaian anak-anak mereka. Kalau
harapan yang Anda tetapkan terlalu tinggi, hingga anak-anak merasa mustahil
untuk mencapainya, maka mereka akan merasa tertekan. Anak-anak akan mudah
merasa tidak berguna lalu kecewa dan murung apabila gagal mencapai impian orang
tua. Keadaan bertambah parah apabila orang tua mulai marah setiap kali anak-anak
gagal berprestasi.
Kemarahan
orang tua tidak akan mengubah cara anak belajar. Sebaliknya hal ini hanya akan
melukai hati anak dan mengurangi rasa percaya diri mereka. Oleh karena itu,
bicaralah dengan anak tentang sasaran dan target tersebut. Dengan cara ini,
anak-anak merasakan target yang ditentukan itu adalah kemauannya sendiri bukan
kemauan Anda, orang tuanya. Teruslah membimbing dan mengasuh si kecil disertai
harapan yang baik dan hindari tuntutan yang berlebihan.
3.
Sabar dan sabar
Memotivasi anak memerlukan
kesabaran yang tinggi. Banyak orang tua yang mudah kehilangan kesabaran, lalu
marah-marah dan menyalahkan anak. Oarang tua kesal, geram karena anak-anak kurang
memberikan perhatian, lambat mengerti dan cepat lupa. Ingatlah anak-anak bukan
kita, mereka tidak mungkin persis seperti kita. Kalau anda marah-marah,
bisa-bisa malah memadamkan motivasi mereka.
D. Usia 6-14 tahun
1.
Jangan memaksa
Untuk meningkatkan prestasinya, orang tua kadang tidak sadar
telah memaksa anak belajar lebih keras. Jangan memaksa anak belajar terlalu
keras, kalau orang tua tidak memberikan perhatian khusus. Memaksa anak belajar
terlalu keras ada segi positifnya namun ada juga segi negatifnya.
Segi positifnya, memaksa anak belajar terlalu keras akan
membuat anak terpacu. Namun ini harus disertai dengan bantuan dan dukungan
orangtua, seperti fasilitas dan perhatian. Karena kalau kedua hal tersebut
tidak diberikan orangtua, tidak akan memperoleh manfaatnya.
2.
Bolehkah pemberian imbalan?
Untuk memotivasi anak, mungkin perlu
dipertimbangkan pemberian imbalan, terutama jika anaktidak melakuan tugasnya
dengan baik, bosan atau bersikap negatif.
Tapi gunakan sistem imbalan yang
efektif. Efektivitas imbalan tergantung akurasi informasi atas prestasi anak.
Imbalan yang efektif bisa berupa kata-kata pujian, waktu ekstra membaca buku
atau bermain di rumah teman. Perhatian orang tua, juga guru bisa menjadi
motivator yang kuat bagi anak untuk berprestasi.
Imbalan diberikan bila anak
menunjukkan perilaku yang kita inginkan, menghilangkan atau berkurangnya
perilaku yang tidak kita kehendaki dan kerja ekstra. Misalnya, menyelesaikan
pe-er lebih cepat.
3. Membuat Suasana Belajar Lebih
Menyenangkan ketika di rumah
Selain tidak sering-sering
memarahi anak ketika belajar, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan
agar suasana belajar lebih menyenangkan dan anak termotivasi belajar. Hal-hal
tersebut adalah:
1.
Anak
cenderung meniru perilaku orangtua, karena itu jadilah contoh buat anak. Ketika
menyuruh dan mengawasi anak belajar, orangtua juga perlu untuk terlihat belajar
(misalnya membaca buku-buku). Sesekali ayah-ibu perlu berdiskusi satu sama
lain, mengenai topik-topik serius (suasana seperti anak sedang kerja kelompok
dan diskusi dengan teman-teman, jadi anak melihat kalau orangtuanya juga
belajar). Dengan demikian, anak melihat bahwa orangtuanya sampai tua pun tetap
belajar.
2.
Pilih
waktu belajar terbaik untuk anak, ketika anak merasa segar. Mungkin sehabis
mandi sore. Anak juga bisa diajak bersama-sama menentukan kapan waktu
belajarnya.
3.
Anak
punya daya konsentrasi dan rentang perhatian yang berbeda-beda. Misalnya ada
anak yang bisa belajar terus-menerus selama 1 jam, ada yang hanya bisa selama
setengah jam. Kenali pola ini dan susunlah suatu jadwal belajar yang sesuai.
Bagi anak yang hanya mampu berkonsentrasi selama 30 menit, maka berikan waktu
istirahat 5-10 menit setelah ia belajar selama 30 menit. Demikian untuk
anak yang mampu belajar lebih lama.
4.
Orang
tua mendampingi anak ketika belajar bukan berarti selalu menemani disampingnya.
Orangtua membantu anak ketika menemukan kesulitan.
5.
Sering
mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang diajarkan di sekolah pada anak (bukan dalam keadaan mengetes anak, tapi misalnya
sembari mengisi tts atau ikut menjawab kuis di tv).
H.
Strategi guru menumbuhkan motivasi belajar
anak
Di
sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau
melakukan belajar. Ada
beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi
belajar siswa, sebagai berikut :
1.
Menjelaskan tujuan belajar ke siswa dengan bahasa yang
mudah di mengerti.
Setiap ilmu yang diajarkan guru
kepada siswa memiliki tujuan maka sampaikan tujuan tersebut dengan bahasa yang
mudah dimengerti dan yakinkan bahwa ilmu yang saat ini didapatkan akan
bermanfaat bagi dirinya. Sehingga siswa (anak) akan membutuhkan ilmu dan
semangat dalam belajar.
2. Hadiah
Berikan
hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk
bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan
termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian
Sudah
sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman
Hukuman
diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.
Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan
berusaha memacu motivasi belajarnya
6. Membantu kesulitan belajar anak didik
secara individual maupun kelompok
7. Menggunakan metode yang bervariasi dan
menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran
8. Memeberikan angka-angka yang dapat
dikaitkan dengan values dalam setiap
pengetahuan sebagai upaya peningkatan keterampilan kognitif dan afeksinya.
9. Memberi
ulangan
Siswa
akan merasa senang saat diberi ulangan ketika guru memberitahukan waktunya
karena siswa mempersiapkan terlebih dahulu.
10. Memberikan motivasi dengan membangkitkan
minat.
Maaf yah sumbernya tidak dicantumkan, kalau mau bisa menghubungi saya di 081617545866. terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar